Sunday, June 17, 2012

Pasangan Malas Foreplay? Rayu Si Dia dengan Cara Ini

indobet77.com - Dalam urusan bercinta, pria umumnya malas melakukan foreplay dan ingin langsung menuju ke 'hidangan utama'. Sementara wanita, perlu waktu lebih lama dari pria untuk bisa menikmati aktivitas bercinta dengan maksimal.

Bahkan banyak wanita lebih memilih mendapat foreplay yang menyenangkan daripada saat penetrasi maupun orgasme. Karena untuk sebagian wanita, berciuman, berpelukan dan merasa diperhatikan serta disayang pasangan lebih bermakna dalam ketimbang seks itu sendiri. Bagaimana membuat pria agar mau melakukan foreplay dan tidak merasa bosan? Intip triknya, seperti dilansir oleh Askmen.

1. Ajak Nonton Film
Tidak harus film dewasa atau film porno. Cukup film-film seksi seperti 'Dirty Dancing', 'Body Heat' atau 'Basic Instinct'. Film romantis yang dibumbui adegan bercinta tentu saja bisa membuat gairah seks meningkat dengan cepat. Tak seperti film porno yang menampilkan bagian tubuh vital pria maupun wanita secara vulgar, film bertema seksi sifatnya seduktif. Anda mendapatkan stimulasi visual yang membuat penasaran dan tergoda untuk mencobanya.

2. Membaca Novel dengan Sentuhan Erotis
Hampir setiap wanita suka membaca novel dengan unsur erotis. Kombinasi cerita 'nakal' dengan suara berat pria tentu saja, dengan mudah meningkatkan mood bercinta wanita. Cobalah untuk membeli beberapa novel erotis, minta pasangan membacakannya untuk Anda atau sebaliknya. Dengan begitu, Anda dan pasangan bisa bebas mengimajinasikan susana bercinta seperti yang ditulis dalam buku dengan cara Anda berdua.

3. Berikan Pasangan Pijatan Mesra
Pijatan mesra terkenal sebagai cara foreplay yang paling menyenangkan. Dengan pijatan, Anda bisa mendapatkan dua kenikmatan sekaligus. Selain bisa lebih relaks, permainan jari jemari pasangan tentu bisa membuat Anda juga pasangan lebih bergairah. Lakukan pijatan mesra dengan menstimulasi titik erotisnya seperti di tengkuk leher, telinga, dada, punggung dan pinggul.

4. Saling Menyuapi
Banyak film yang melakukan adegan saling meyuapi pasangan makanan sebelum bercinta. Tidak ada salahnya ikut mencoba. Cobalah membalut jari Anda dengan madu dan biarkan si dia mengulumnya. Selain madu, bisa juga menggunakan stroberi, whipped cream, lelehan cokelat atau pudding.

1 Dari 3 Wanita Hanya Butuh 1 Bulan untuk Move On

indobet77.com - Hubungan yang telah kandas dengan orang yang sangat disayangi memang merupakan tragedi yang menyedihkan. Terlebih lagi jika perpisahan tersebut dikarenakan masalah besar yang dilakukan oleh mantan. Tak heran jika banyak orang terkadang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bangkit dari keterpurukkannya.

Namun, roda kehidupan tetap terus berputar. Mau tidak mau, Anda harus bisa move on dan melanjutkan hidup baru dengan penuh semangat. Cobalah melihat sisi positif dari kegagalan hubungan bersama mantan kekasih. Siapa tahu, Anda dapat memperbaiki diri agar lebih baik ke depannya.

Apakah Anda salah satunya yang sudah berhasil untuk move on? Lantas, berapa lamakah waktu yang dibutuhkan untuk Anda bangkit?

Berdasarkan survei yang dilakukan Wolipop secara online melalui situs jejaring sosial Twitter, Kamis (14/6/2012), dari 103 responden yang terlibat, terdapat satu dari tiga wanita yang baru putus cinta menjawab butuh waktu kurang lebih dari satu bulan untuk move on.

"Paling cepat 1 minggu, paling lamanya 2 minggu," tulis Fitra (bukan nama sebenarnya) kepada akun Twitter Wolipop. Sinta (bukan nama sebenarnya) pun mengatakan kurang dari satu bulan untuk move on, "ngga sampe 1 bulan."

Ada juga sekitar 15,3% responden yang sampai menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengatasi kesedihan mereka. "Lama banget, sekitar dua tahun.. hahaha," tulis Dina (bukan nama sebenarnya) yang antusias menceritakan masa lalunya.

Sementara 15,3% responden lainnya mengatakan bahwa mereka bisa move on dengan waktu sekitar satu hingga enam bulan. Kemudian 18% wanita lainnya, mengaku bisa bangkit dari keterpurukkan dalam waktu enam bulan hingga satu tahun.

Sedangkan 18% sisanya mengatakan bisa atasi kesedihannya jika sudah ada pengganti baru. "Nggak tentu, tapi intinya sampe ada orang baru yang bisa gantiin," tutur Monik (bukan nama sebenarnya).

Supaya Cepat Move On Pasca Jalinan Cinta Kandas

indobet77.com - Sedang patah hati? Jangan terus berlarut-larut menangisi mantan. Mungkin ini jalan yang terbaik bagi Anda dan dia.
Namun, yang namanya kehilangan pasangan pasti sedih. Untuk itu, ada beberapa cara yang bisa dilakukan agar Anda tidak terus berlarut-larut dalam kesedihan dan move on. Berikut ini saran dari Rosdiana Setyaningrum, MPsi, MHPEd, seorang psikolog klinis:

1. Terima Keadaan
Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah terima kalau hubungan sudah berakhir. Anggap bahwa putus bisa membuat Anda dan kekasih lebih baik ke depannya. Mungkin tidak ada kecocokan lagi di antara kalian.

2. Evaluasi Penyebab Putus
Evaluasi kembali penyebab putus. "Kalau misalnya ada ketidakcocokan yang tidak mendasar, seperti perbedaan selera film, itu pertanda berarti yang satu nggak serius, tapi kalau perbedaannya mendasar, ya, memang harus putus karena setiap orang tidak bisa berubah," tutur Rosdiana, yang diwawancarai oleh wolipop, Kamis (14/06/2012). Ingat, lebih baik berpisah sekarang daripada nanti menyesal setelah menikah.

3. Introspeksi Diri
Introspeksi diri untuk menetralkan kembali perasaan Anda. Mungkin sikap Anda selama menjalin hubungan membuat kekasih tidak nyaman atau merasa tertekan. Jangan menyalahkan keadaan atau orang lain. Coba dimulai dengan mengoreksi diri sendiri agar lebih bijak dalam mengambil langkah selanjutnya.

4. Sharing dengan Teman
Setelah introspeksi, Anda bisa meluapkan perasaan kepada teman terdekat. Sharing dengan teman juga bisa mencegah Anda agar tidak melakukan balas dendam karena diselingkuhi atau tindakan lain yang merugikan. "Sharing sama teman-teman bisa meredakan niat balas dendam. Untuk apa marah-marah atau sampai meneror mantan, nanti dia malah bersyukur pisah sama Anda,” ujar psikolog lulusan Master Psikologi Universitas Indonesia di bidang klinis dan Master of Health Profession Education dari Universitas New South Wales, Australia itu.

5. Berolahraga
"Olahraga adalah salah satu cara yang sangat efektif untuk memghilangkan rasa marah karena patah hati," ujar Rosdiana. Anda bisa alihkan perasaan sakit hati dengan berolahraga secara rutin. Selain menyembuhkan patah hati, olahraga akan membuat tubuh menjadi sehat.

6. Melakukan Kegiatan Lain
Jika kelima cara di atas belum ampuh, lakukan kegiatan lain yang dapat membuat Anda lebih sibuk. Misalnya, sering berkumpul bersama teman, bekerja lebih giat, melakukan hobi, atau ikut kursus yang membuat perasaan Anda teralihkan.

Setelah Putus Cinta Boleh Langsung Punya Pacar, Asal...

indobet77.com - Tidak sedikit wanita yang memilih langsung move on dan memiliki kekasih baru saat baru putus cinta. Sebenarnya bolehkah rebound atau cepat punya pacar lagi setelah patah hati ini dilakukan?

Psikolog Rosdiana Setyaningrum mengatakan, sebenarnya sah-sah saja bagi siapapun yang baru putus cinta cepat memiliki kekasih lagi. "Kalau sudah putus ya sudah putus, cari lagi. Kayak nggak ada cowok lain saja," begitu kata wanita yang akrab disapa Diana itu saat diwawancara wolipop melalui telepon Kamis (14/6/2012).

Hanya saja saat Anda memutuskan untuk cepat move on, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, Anda harus ingat kalau setiap orang itu berbeda. Sehingga ketika sudah pacaran dengan pria baru, jangan melihatnya sebagai sosok yang sama dengan mantan dulu.

"Jangan terlalu membandingkan kalau pasangan yang dulu lebih baik," ujar Diana. Ketika Anda masih suka membanding-bandingkan, Anda tidak akan bisa melihat kekasih sebagai dirinya sendiri.

Hal kedua yang perlu Anda lakukan ketika ingin langsung punya pacar lagi setelah baru putus adalah, dengan banyak mengobrol atau sharing. "Bisa juga minta saran dari teman-teman, sharing," kata psikolog lulusan Universitas Indonesia ini.

Dengan mengobrol bersama teman, Anda mendapatkan perspektif yang berbeda dan mengevaluasi lagi apakah memang pilihan yang diambil tepat atau tidak. Teman juga bisa mengingatkan ketika misalnya ternyata Anda sebenarnya masih sangat mencintai mantan namun ternyata berusaha menutupinya dengan memacari pria baru.

Salah satu tanda Anda sebenarnya hanya mencari pelarian saat baru putus cinta adalah ketika Anda terlalu sering membicarakan mantan kekasih. Selama Anda masih suka mengungkit-ungkit soal mantan entah itu keburukannya atau kebaikannya, berarti Anda belum bisa move on.

5 Cara untuk Mengambil Hati Mertua

Mertua terkadang jadi momok yang dianggap mengerikan oleh beberapa pasangan setelah menikah. Padahal tidak semua mertua suka bersikap menyebalkan. Selama Anda bisa mengambil hatinya, perlakuannya pada menantunya pun akan baik-baik saja.

Bagaimana caranya bisa mengambil hati mertua? Berikut ini tujuh cara yang bisa Anda coba agar bisa memiliki hubungan baik dengan 'ibu dan ayah' baru Anda itu, seperti dipaparkan GetWed:

1. Temukan Ketertarikan yang Sama
Anda bisa berteman dengan seseorang ketika menemukan ketertarikan yang sama. Jadi cobalah cari apa hal yang bisa Anda lakukan dan nikmati bersama dengan mertua. Misalnya saja, shopping, olahraga atau masak. Ketika melakukan aktivitas bersama ini, gali lagi darinya dengan mengajaknya mengobrol lebih dalam. Siapa tahu ternyata ada lagi keterterikan lainnya yang juga sama-sama dimiliki kalian.

2. Selalu Beri Suami Perhatian
Yang mertua pertamakali lihat dari Anda setelah menikah adalah bagaimana kemampuan Anda sebagai istri untuk mengurus suami. Jika suami Anda adalah anak tunggal, bisa jadi mertua akan sangat memerhatikan kemampuan Anda ini. Apakah Anda sudah benar-benar memerhatikan anaknya, mengurus semua kebutuhannya? Tak ada salahnya, membuat mertua tahu bagaimana Anda mengurus suami dengan baik. Misalnya dengan membuatkan makanan favorit suami ketika mertua datang untuk makan siang atau malam bersama.

3. Janjikan Kehadiran Cucu
Kalau Anda dan suami belum berencana untuk memiliki anak langsung setelah menikah, setidaknya berikan mertua petunjuk kalau di masa depan mereka akan mendapatkan cucunya. Jelaskan alasan Anda kenapa menunda kehadiran anak, dengan alasan yang memang sebenarnya untuk kebaikan masa depan cucunya, misalnya ingin mempersiapkan investasi pendidikan terlebih dulu. Janji kehadiran cucu ini penting karena dalam usia tertentu, ada tahapan di mana yang diinginkan adalah menjadi kakek dan nenek.

4. Habiskan Waktu Bersama
Kalau sejak dari pertemuan pertama Anda tidak pernah bisa akrab dengan mertua, cobalah berusaha untuk sesekali menghabiskan waktu bersamanya. Bisa jadi Anda akan merasa ternyata kesan pertama Anda saat bertemu dengannya dulu tidak tepat, sehingga Anda jadi enggan untuk berlama-lama bersama mertua. Saat mengobrol, cobalah untuk melihatnya bukan sebagai 'orangtua dari pasangan', tapi lihat mertua sebagai seorang individu biasa.

5. Bersikaplah yang Baik
Ketika ingin mengambil hati mertua, Anda tentunya harus melakukan usaha lebih yang belum tentu sejalan dengan mood. Misalnya saja, ketika Anda sedang PMS, tiba-tiba mertua datang untuk menengok cucu, jangan pasang muka masam. Tak perlu juga bersikap berlebihan, bahasa tubuh seperti tersenyum atau memberinya perhatian kecil seperti menawarinya minum juga sudah diterima mertua.

Tuesday, June 5, 2012

CERPEN: Yang Luruh dan Yang Runtuh (Karya BluepiscesLady)

Hujan di luar kian deras. Tetes airnya menembus atap jerami yang melingkupi pondok itu. Rasyid berusaha mengamankan beberapa lukisan dari jangkauan air yang menyelusup. Musnah sudah rencananya untuk ke puncak sana, mengabadikan indahnya rimba yang terlihat dari atas. Pemuda itu mengambil kecapi dari bawah dipan lalu memainkannya.


Terdengar irama ritmis khas Jawa Barat ditingkah rinai hujan yang mulai reda. Rasyid terhanyut sendiri. Saat itu matanya menohok sebuah lukisan di sudut ruang. Seraut wajah perempuan tiba-tiba membuat permainan kecapinya jadi kacau. Kemudian mulut Rasyid bergumam tak jelas. Dan suara kecapi tak terdengar lagi.

“Kok, berhenti, ras?” Sebuah suara mengejutkan dari balik pondok. Disusul kemunculan seorang lelaki dengan tubuh basah kuyup.
“Sori tidak permisi. Soalnya aku terburu hanyut dengan permainan suara kecapimu,” sambungnya.
“Sendiri saja?” Rasyid bertanya.
“Ya. Kan kau sendiri yang mau. Katamu, kalau ke sini lebih baik tidak usah beramai-ramai. Jadi bergilir. Bagaimana lukisanmu? Sudah selesai?”
“Belum. Mau aku selesaikan tapi sedang tidak mood. Tuh, nelum selesai juga kan,” Ras menunjuk sebuah lukisan yang belum jadi tersandar di dinding. Tangannya menyulut rokok kretek murahan. Dihisap beberapa kali sambil merenung, lalu terbatuk-batuk.
“Merokok jangan kayak kereta begitu, dong. Kamu tidak muda lagi. Eh, ngomong-ngomong apa kabarnya Raisa? Masih sering dia kemari?” Ari memancing.

Rasyid tak menjawab. Sedikit ia mengerling pada lukisan di sudut ruang, lalu kembali tak acuh. Rasanya sulit menggantikan sosok pada lukisan itu dengan perempuan lain. Kendati Raisa adalah perempuan cukup manis, baik dan penuh perhatian. Ia juga berjiwa seni seperti dirinya. Tak seperti perempuan di atas kanvas itu. Hati rasyid seperti tertusuk tiap kali ingat kejadian itu.

“Apa kurangnya Raisa, Ras?” Ari menyelidik.
Lagi-lagi Rasyid hanya menghembuskan asap rokok kreteknya.
“Dia suka sama kamu, Ras. Cantik, sama-sama suka seni dan tidak kolot seperti kebanyakan perempuan.”
“Urus saja dirimu sendiri, Ri.” Rasyid kehabisan kesabaran mendengar celoteh Ari.
“Ooo, jadi kau masih mengharapkan Anika? Sudahlah, dia sedang asyik dengan tunangannya. Buat apa kau tunggu lagi. Memikirkan satu perempuan saja bisa membuat dirimu mati bujang!” Seloroh Ari.

Rasyid tetap tak bergeming. Ia hanya melirik kesal ke arah sahabatnya. Disisrnya rambut panjangnya dengan jemari tangan.
Entah sudah berapa tahun ia tinggal di sini. Sebuah pondok mungil di atas bukit. Jauh dari keramaian kota. Jauh dari rumah mewah milik orang tuanya. Barangkali lima, enam tahun, entahlah. Seniman gunung, begitu ras dijuluki oleh teman-temannya dan penduduk sekitar. Ia hidup dari penjualan lukisan atau besukan teman-teman. Keluarga ras sendiri tak pernah lagi terdengar kabarnya. Memang pria setengah baya itu tak pernah mau tau lagi.

Semua diawali sekitar tujuh tahun silam saat ia tinggalkan rumah. Hanya membawa peralatan lukis serta beberapa helai baju. Sempat menumpang sana-sini, akhirnya terdampar di sebuah pondok yang dibangun bersama teman-teman ini. Sebuah pondok sederhana di kaki Gunung Salak. Sepi, terpencil. Menjadi tempat pertapaan Rasyid dan beberapa teman seniman. Rasyid menjadi penghuni tetap dan sama sekali tak pernah menjejakkan kaki ke kota.
Ras terhenyak dari lamunan ketika terdengar petikan gitar Ari.

“Minggu depan Adit anakku ulang tahun,” ucap Ari mengingatkan. “Boleh kubawa ke sini kan? Aku ingin dia tumbuh sebagai manusia yang mencintai alam.”
“Boleh saja. Aku suka anak itu,” jawab Ras.
“Ngomong-ngomong soal anak, kapan kau punya anak sendiri,Ras?” Pancing Ari.
“Lagi-lagi kau pancing masalah itu, Ri. Aku bilang, urus saja dirimu dan keluargamu sendiri. Jangan singgung soal perempuan dan pernikahan di hadapanku!” Ras menggerutu membuang puntung rokoknya.

Ari hanya mengangkat bahu. Untuk masalah yang satu itu karibnya memang sensitif sekali. Teman lain juga suka menggoda Ras, baik serius maupun bercanda. Maksudnya tak lain agar satu-satunya teman mereka yang belum menikah itu segera mengakhiri masa membujangnya seperti mereka. Nampaknya itu cukup sulit. Sebab Ras masih terpaku pada Anika, gadis masa lalunya yang sudah bertunangan dengan lelaki lain. Berbagai cara mereka lakukan agar Ras melupakan Anika. Tapi Ras tetap berkeras. Lukisan potret perempuan itu di sudut pondok menjadi bukti bahwa Ras tak pernah bisa menghapus ingatannya pada Anika.

Sampai suatu ketika Ari dan Beni berkenalan dengan Raisa. Perempuan berambut panjang itu baru saja lulus dari sebuah institut seni di Jakarta. Ia tengah berusaha mendapatkan patner menggelar pameran bersama ketika bertemu dengan mereka. Kelamaan Raisa jadi akrab dan diajaknya ke pondokan Rasyid. Di situlah ide untuk menjodohkan kedua insan berlain jenis itu mulai.

Seperti tak sia-sia, Raisa mulai menunjukkan perhatian pada Ras. Namun sayang Ras tak sedikitpun bergeming. Ia justru gusar saat tahu teman-temannya dengan sengaja menjadi mak comblang antara ia dan Raisa.

“Tak ada apa-apa antara aku dan Raisa. Silahkan kalian kecewa kalau berharap aku akan jatuh cinta padanya,” kata Ras suatu hari.
Itulah Rasyid, si gondrong yang keras kepala. Kesetiaannya pada cinta membuat dirinya terpenjara. Satu-satu teman karibnya mulai berkeluarga. Ras masih menyendiri di pondoknya yang kian lapuk seperti dirinya. Teman-teman Ras khawatir ia berangsur jadi tak waras. Maka perempuan demi perempuan diperkenalkan pada Ras. Tak satupun digubris. Di dihup Ras hanya ada satu perempuan. Ya Anika itulah.

Hari mulai gelap ketika Ras kembali ke pondok. Dua orang lelaki sudh menunggu. Ari dan Budi.
“Sudah lama?” Tanya Ras.
“Lumayan. Kau dari atas?” Budi balik bertanya.
Ras mengangguk sembari memamerkan lukisannya yang masih basah. Sebuah pemandangan hutan pinus yang diambil dari atas gunung. Indah.
“Hebat, ras,” komentar Budi.
Ras masuk ke pondok. Saat itu ia mendengar kasak kusuk kedua temannya. Tapi mereka langsung terdiam waktu Ras keluar.
“Ada apa sebenarnya?” Ia bertanya curiga.
Ari dan Budi saling berpandangan.
“Begini, kami membawa amanat seorang teman,” Ari mendekati, memegang pundak Ras. Tangan lainnya menggamit sesuatu.
“Aku berat menyampaikan padamu. Tapi bagaimana lagi, ini amanat.”
Ras kian tak mengerti. Tanda tanya besar tergambar di wajahnya.
“Kau tenang saja. Jangan terbawa perasaan begitu.” Ari menyodorkan sebuah amplop.
“Bacalah dengan tenang.”

Ras menyambut amplop merah muda itu dan membukanya. Sebuah surat undangan pernikahan dari gadis masa lalunya, Anika. Pernikahan Anika dengan lelaki lain entah siapa. Wajah Ras berubah drastis. Undangan itu dijatuhkan tanpa sengaja. Lelaki setengah baya berambut panjang sepinggang itu mematung sejenak.

“Ini kenyataan,ras. Kau harus terima dengan jiwa besar seorang laki-laki,” Ari menepuk pundaknya.

Ras bergegas masuk pondok. Lukisan di sudut ruangan diambilnya. Ditatap lama. Lalu dibanting. Kemudian terdengar suara gaduh luar biasa. Semua benda dalam ponsok itu dihancurkan oleh Ras. Ari dan Budi mencoba mencegah tapi sia-sia. Ras mengamuk seperti banteng liar. Ketika amarahnya reda, pondok itu sudah berantakan. Tak satupun lukisan yang utuh.

“Ras! Kau tak bisa begini! Kau hancurkan karyamu bertahun-tahun hanya karena masalah sepele ini. Apa cuma sampai di sini ketegaranmu?” Ari berusaha menyadarkan.
“Pergi kau dari sini!” Seniman itu membentak.
“Ooo, cuma sampai di sini kemampuanmu, Ras?”
“Enyah!!!”
“Kau laki-laki pengecut, ras. Tidak bisa menerima kenyataan.”

Ari dan Budi berlalu. Meninggalkan Ras dalam keadaan kacau balau. Bagi mereka percuma saja mencoba menenangkan pemuda keras kepala itu di saat seperti ini. Tak lama sepeninggal mereka, Ras meninggalkan pondok. Turun ke desa terdekat. Ia menuju sebuah warung yang biasa menjual minuman keras. Sejak hari itu Ras menjadi pelanggan setia warung itu.

Tenam-teman Ras yang berkunjung tak pernah lagi melihat Ras melukis. Yang terdengar hanya nada-nada sumbang gitar yang dimainkan si gondrong itu. Beberapa botol minuman keras mulai memenuhi pondok. Ini memprihatinkan teman lain. Terlebih Ras sering didapati sedang mabuk, tak sadarkan diri. Pondok jadi berantakan tak terurus. Persis diri Ras yang kian terlihat tua dan rapuh.

“Aku menyesal menyampaikan undangan itu,” ujar Ari.
“Tidak, Ri. Itu jalan yang terbaik. Bagaimanapun juga Ras harus berhenti dari harapan konyolnya. Ia harus hadapi kenyataan,” kata teman lain.
“Tak kuduka akan begini akibatnya,” sesal Budi.
“Biarkan saja. Kita harap ras segera pulih dari keadaan ini,” sergah Rani.
Namun ternyata Ras tak juga bertambah baik. Justru semakin parah saja. Keadaannya kian memburuk dari hari ke hari. Ia juga menjadi dingin terhadap wanita. Raisa yang setia datang memasakkan makanan dan mencuci pakaiannya tak pernah diacuhkan. Ini membuat teman-teman Ras lebih sering datang berkunjung menjagai sobat karibnya itu.
“Ras tak pernah menggubrismu sedikitpun, Raisa. Lalu kenapa kau masih setia menemaninya?”
“Kalau ras bisa begitu setia pada gasi pujaannya, kenapa aku tidak?” Raisa menjawab polos.
“Jadi kau benar-benat mencintainya?” Tanya Budi.
“Ya.”
“Walaupun ia tak mempedulikanmu?”
Raisa mengangguk.
“Kau dan Rasyid membuatku bingung. Ras tak bisa melupakan Anika. Kau juga tak bisa berhenti mencintai Ras. Ini seperti lingkaran setan saja. Kalian sungguh membuatku bingung,” gerutu Bani.
Memang mulanya mereka mengira dengan kesetiaan Raisa merawat ras akan membuat Ras melupakan Anika. Tapi itu sia-sia.
“Sudahlah, Raisa. Tinggalkan saja si gondrong tak tahu diri itu. Kami tak ingin kau jadi korban cinta yang kedua. Ia memang batu. Percuma kau sayangi orang macam itu,” bujuk Ari dan yang lain.
Yang terjadi justru sebaliknya. Raisa kian setia merawat Rasyid. Pernah sekali waktu ras mengamuk dan mengusirnya. Raisa tetap kembali menemani pelukis yang tak pernah lagi melukis itu.

Suatu petang Ras begitu berkeras tak mau makan sesuapun nasi. Ia hanya mau minum vodka dan vodka.
“Oke, kaudapatkan vodka setelah makan.” Raisa berkata tegas.
“Aku tidak lapar, cuma haus. Kembalikan botol itu!”
Raisa tetap menyembunyikan botol vodka Ras.
“kau kira bisa menghalangiku? Sejak dulu aku bebas tanpa campur tangan siapapun. Tiba-tiba kau hadir dan melarang ini-itu. Siapa sih kau ini?!”
Ras menghilang, turun meninggalkan Raisa di pondok. Tak lama ia kembali dengan vodka di tangan. Raisa mencoba merebutnya tapi tak bisa.
“Sekali lagi kaudekati aku, kuhancurkan kepalamu dengan ini,” Ras mengancam sambil mengacungkan botol kosong.

Raisa tak kehilangan akal. Saat ras lengah direbutnya botol vodka itu dan dilempar jauh-jauh. Tak ada perlawanan daei Ras. Ia hanya tepekur dengan mata tertutup. Raisa baru sadar bahwa lelaki itu pingsan. Ia jadi panik. Dibaringkan tubuhnya di dipian. Ras sempat bangun memuntahkan cairan merah kental. Darah. Lalu ia tak sadar lagi. Raisa tambah panik. Ia berlari menuruni bukit. Menuju desa di bawah dan menyetop kendaraan umum. Sampai di kota segera ditelponnya teman-teman lain.

Menjelang malam, Ari, Budi, Dian dan bani tiba di pondok. Ras dalam keadaan tak sadar. Mengigau tak keruan.
“Kita bawa ke rumah sakit,” kata Bani.
Malam itu juga tubuh kurus Ras diboyong ke rumah sakit di kota. Masuk ke ruang gawat darurat. Keadaannya koma. Terlambat sekian detik saja mungkin tak tertolong lagi, begitu kata dokter.
“Kali ini dia cari penyakit!” Budi menggerutu kesal.

Tiga hari sudah ras menghuni rumah sakit. Keadaannya tak kunjung pulih walau tak lagi koma. Ia masih mengingau. Bernyanyi tak keruan mengganggu pasien lain. Susah disuruh minum obat. Kadang juga berjalan di tengah malam sambil membawa botol infus. Teman-teman bergilir menjaga. Raisa yang paling setia. Keluarga Ras di jakarta sudah dihubungi. Cuma adiknya yang datang.

“Ayah masih di Singapur. Ibu sedang sibuk seminar. Kalau semua sudah beres, Bang Rasyid akan dijembput,” jelas adik Ras.
“Kapan beresnya? Sejak dulu juga urusan mereka tak pernah beres hingga anaknya jadi begini rupa,” sindir Bani.
Ari menyikut lengan Bani.
“Tak apa. Kami teman-temannya sudah seperti saudara bagi ras. Kalau kau sibuk, biarlah ras kami yang rawat,” kata Ari menenangkan adik ras.
“Bukan apa-apa, saya mau ujian semester. Jadi tak bisa menjaga Bang Rasyid. Ibu menitipkan ini,” adik ras menyodorkan amplop berisi uang untuk biaya pengobatan. Tak lama ia pergi tanpa sekalipun menengok abangnya yang terkapar.
“Aku betul-betul paham sekarang kenapa Ras lebih memilih tinggal di gubuk daripada bersama keluarganya,” komentar Budi.

Selama di rumah sakit, hubungan rasyid dan Raisa kian dekat. Ras sudah mau iklas membiarkan dirinya dirawat perempuan itu. Ia tak lagi kasar seperti waktu di pondok. Tapi nama yang sering disebut dalam igauannya adalah Anika.

“Bukan aku tak tahu budi, Raisa. Kau begitu setia padaku. Demikian juga hatiku pada Anika. Cintaku sudah habis kuserahkan padanya dan tak bisa membaginya untukmu,” begitu kata Ras suatu ketika pada Raisa.
“Aku mengerti, Ras. Kau tak bisa berhenti mencintai Anika seperti halnya aku tak bisa berhenti mencintaimu,” jawab Raisa tabah.

Seminggu kemudian keluarga Ras datang menjembput. Ras akan dipindahkan ke rumah sakit di Jakarta. Orang tua Rasyid nampak begitu merindukan anaknya. Sikap Ras sendiri acuh tak acuh. Ia seolah keberatan dipisahkan dari teman-temannya.

“Biar aku di sini saja,” Ia berkeras.
“Kau ikut kami ke Jakarta, titik. Sudah berapa lama kau tak pulang? Di sana kami akan lebih memperhatikanmu,” kata ibu Ras.
“Simpan saja janji itu, Bu. Aku tak mau pulang!” Ras tetap bersikeras.
“Rasyid, cukup sudah ulahmu yang bikin pusing keluarga! Kali ini kau harus menurut!” Ayah Rasyid mengultimatum.
Rasyid hanya mampu melawan dengan ucapan. Tubuhnya terlalu lemah untuk melawan. Sore itu juga ia diboyong k Jakarta.
“Aku takkan pernah bisa melupakan kalian, saudaraku yang sesungguhnya,” Rasyid memeluk satu-satu temannya.
“Kami juga, Ras. Jangan kawatir, kami akan mengunjungimu,” sambut Budi.
Raisa hanya menangis, tak berucap sepatah katapun. Entah kenapa dalam hatinya merasa seperti tidak akan melihat Rasyid lagi. Tapi rasa itu hanya dipendamnya.

Seminggu, dua minggu. Sebulan sudah sejak kepergian Rasyid ke Jakarta. Pondok jadi tak terurus. Memang masih satu dua orang yang menyempatkan diri untuk mengurus. Kesibukan kerja membuat pondok terlupakan. Apalagi Ras tak lagi di situ. Hanya Raisa yang datang setia untuk melukis.
Pagi itu Ari hendak berangkat kerja ketika tiba-tiba ada yang bertamu. Ternyata adik rasyid.

“Hei, kau datang langsung dari jakarta?” Ari terkejut melihatnya di muka pintu.
“Iya, Kak. Saya ingin mengabarkan sesuatu tentang Bang Rasyid.
“Wah, apa kabarnya dia? Sudah sehat? Apa jangan-jangan sedang bersembunyi di belakangmu ,” Ari mencari-cari Ras di teras rumahnya
Wajah adik Ras berubah.
“Ada apa?” Ari terkejut.
“bang rasyid mnitipkan ini,” ua menyodorkan kertas yang terlipat. Ari menerimanya cepat dan membaca.
“Dalam sejarah hidupku, hanya kalianlah saudara dan keluargaku yang sebenarnya. Walau tanpa ikatan darah atau pengangkatan resmi. Akan kukatakan itu pada Tuhan kalau bertemu nanti. Rasyid.”

Sebuah tulisan khas Rasyid yang berantakan tapi masih terbaca tertera di atas sebuah kertas buram. Ari hanya terpaku.
“Ada apa dengan Rasyid?”
“Bang Ras dipanggil Tuhan kemarin sore. Langsung dikuburkan tadi malam. Maaf, saya baru bisa mengabari sekarang,” pelan adik Ras bertutur.

Ari seperti tak mendengar apapun. Telinganya berdenging keas. Terdengar denting tali kecapi yang dimainkan Rasyid. Terngiang suara Ras mengigau tak keruan.

Pinggiran Jakarta, desember 1994
Buat almarhum Richard.

Antara Uang dan Cinta

Cinta dibutuhkan setiap manusia. Namun, apakah cinta bisa tumbuh dengan uang? Mungkin bisa, tapi kemungkinannya sangat kecil. Uang memang bisa memberikan keindahan akan cinta yang dimiliki. Tapi, apakah cinta bisa dibeli dengan uang?

Dalam seminarnya, Tung Desem Waringin pernah mengatakan, “Bila Anda tahu tempatnya, Anda bisa membeli ‘cinta’ tersebut” (Mungkin yang dimaksud adalah cinta palsu).

Tetapi bukankah sekarang adalah zaman serbapalsu? Kalau asli, maka Anda tak akan pernah membeli barang palsu, bukan? Buktinya, Mangga Dua makin ramai dan tak pernah sepi, berarti yang palsu pun laris manis juga.

Uang atau Cinta
Jika saat ini Anda memiliki uang dalam jumlah yang berlimpah, amat disarankan untuk tidak terlalu mengumbarnya dan lebih berhati-hati. Mengapa? Karena Anda bisa jadi merupakan target utama bagi para penjaja dan penjajah cinta palsu. Pasalnya, saat ini banyak sekali yang menjual cinta palsu dengan berbekal “kemasan yang menawan” seperti wajah tampan dan perayu ulung.

Agar tak terperangkap pada cinta palsu, sebaiknya Anda mengupas kulit luarnya dulu. Caranya, jangan tunjukkan bahwa Anda memiliki uang yang berkelebihan. Misalnya, jangan sampai Anda yang selalu mengeluarkan uang untuk kencan. Hindari pula keinginan untuk membanjiri si dia dengan hadiah-hadiah mahal di awal hubungan. Kalau perlu, “kupaslah” hubungan Anda dan dia selama 3 tahun pertama hubungan dengan hidup sederhana dan dana yang dibatasi. Jika dalam rentang waktu tersebut si dia masih mau bersama Anda, perhatiannya tak berubah, dan sikapnya pun tetap sama, malah ia yang rajin mengeluarkan dompetnya, maka, selamat, Anda telah menemukan “keaslian” cintanya.

Nah, untuk Anda yang berniat menggaet pasangan yang mapan dan hartawan, jangan tertipu oleh penampilan luarnya. Karena saat ini banyak sekali “hartawan palsu”, yang berlagak sok kaya di depan Anda. Sekarang ini, si dia bisa saja mengeluarkan uang dan hidup senang-senang. Tapi ketika hubungan makin serius, jangan-jangan Anda yang akan kena giliran membiayai semuanya.

Maka, sebelum memutuskan untuk mengikat si dia, jika memungkinkan, periksalah neraca dan laporan keuangan orang tersebut. Paling tidak untuk 3 tahun terakhir. Bila Anda tidak mampu membaca neraca dan laporan keuangan, mintalah seorang akuntan publik atau paling tidak perencana keuangan untuk membantu Anda.

Keterbukaan soal uang juga akan mencegah hal-hal yang tak diinginkan di kemudian hari. Apalagi bila Anda telah berhubungan serius dan berniat menikah. Buka-bukaan soal uang sangat disarankan.

Mengusir Bayang-bayang Sang Mantan

Artikel ini sekaligus menjawab beberara curhatan yang mengajukan kasus serupa: sudah menikah atau sudah tunangan, namun masih selalu terbayang si mantan. Memang ini fenomena aneh, entah kenapa bayang2 mantan menyeruak lagi ketika seseorang sudah membuka lembaran baru.

Tentu hal ini cukup menganggu, mengingat kita tak mungkin kembali ke si mantan, sebab sudah punya pasangan yang sangat mencintai kita.

Saran saya adalah:

Ingatlah apa penyebab utama kamu putus sama mantanmu
Jika sudah ingat, tentu kamu akan merasa tak mungkin kembali padanya kan?
Ingat juga semua kejelekan dia yang bikin kamu dulu putus sama dia
Syukurilah kini kamu sudah punya pasangan yang mencintaimu dan menerimamu apa adanya, belum tentu mantanmu sudi menerimamu apa adanya lho.
Lihat semua kebaikan dari pasanganmu saat ini, dan jangan menengok ke belakang
Jangan dengan sengaja mengengang masa lalu dengan si mantan, sebab itu sama saja dengan mancing2 sendiri.
Jika si mantan mengajak bertemu, tolak saja.